Sirah Nabi (Bag. 02): Inilah Ringkasan Tentang Wafatnya Rasulullah dan Jumlah Peperangan Bersamanya

FIQIH INDONESIA – Detik-detik akhir hayat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam adalah momen paling menyedihkan dalam sejarah Islam, di mana sang kekasih Allah memilih kembali kepada-Nya dengan wasiat terakhir. Di saat ajal menjemput, lisan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam tidak berhenti mengulang pesan tentang shalat, menunjukkan bahwa warisan utama beliau bukanlah tahta, melainkan ketaatan kepada Allah.

Wafatnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam wafat dalam usia enam puluh tiga tahun, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam wafat pada waktu dhuha hari Senin dua belas Rabiul Awal. Sebelum wafat, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam menderita sakit selama dua belas atau empat belas hari.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam dimandikan oleh Ali bin Abi Thalib, pamannya Abbas, al-Fadhl bin Abbas, Qutsam bin Abbas, Usamah bin Zaid dan Syuqran serta dihadiri pula oleh Aus bin Khaula al-Anshari. Beliau dikafani dengan tiga lapis kain putih yang dibuat di Sahul yaitu sebuah negeri di Yaman, tanpa gamis dan sorban. Kemudian kaum muslimin menshalatinya.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam dimakamkan di tempat Beliau wafat yaitu  sekitar tempat tidurnya di kamar Aisyah Radiyallahu ‘anha dan di tempat itu pula dimakamkan Abu Bakar Radiyallahu ‘anhu dan Umar Radiyalahu ‘anhu.

Putra-Putri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam memilik tiga orang putra yaitu:

  1. Al-Qasim, dilahirkan di Makkah sebelum Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam diangkat menjadi Nabi. Al-Qasim meninggal di Mekah pada usia dua tahun.
  1. Abdullah, dinamakan juga dengan at-Thayyib (yang baik) dan at-Thahir (yang suci) karena ia dilahirkan sesudah Islam.
  2. Ibrahim, dilahirkan dan wafat di Madinah tahun sepuluh hijriah pada usia tujuh belas atau delapan belas bulan.

Putri-Putri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam

  1. Zainab, menikah dengan Abu Al-Ash bin Rabi’ bin Abdul Uzza bin Abdul Syams sepupu Zainab, karena ibunya adalah Hala binti Khuwailid (saudara dari Khadijah binti Khuwailid).
  2. Fatimah, menikah dengan Ali bin Abi Thalib. Dari pernikahan tersebut Fatimah melahirkan Hasan, Husain dan muhassin yang meninggal waktu kecil.
  3. Ruqayyah, menikah dengan Ustman bin Affan. Meninggal di pangkuan Ustman. Ustman lalu menikahi Ummu Kultsum (adik Ruqayyah) yang juga meninggal di pangkuannya, Ruqayyah memiliki seorang putra yang bernama Abdullah sehingga Ustman dipanggil dengan kunyah Abu Abdullah.
  4. Ummu Kultsum, ia dinikahi Utsman bin Affan setelah kakaknya, Ruqayyah, wafat, menjadikannya istri kedua yang dinikahi Utsman dari putri Nabi. Ia hijrah ke Madinah dan wafat pada tahun 9 Hijriah, dimakamkan di Baqi’.

Haji dan Umrah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam

Hammam bin Yahya meriwayatkan dari Qatadah ia berkata: “Saya bertanya kepada Anas: “Berapa kali Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam  melaksanakan haji?” Anas menjawab: “Satu kali dan umrah empat kali. Pertama ketika dihalangi kaum musyrikin, kedua tahun berikutnya ketika mengadakan perjanjian (Hudaibiah), ketiga umrahnya dari Ji’ranah setelah membagikan harta rampasan perang Hunain dan yang keempat umrahnya bersama haji.” (Hadits Muttafaq alaih)

Peperangan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam

Menurut pendapat masyhur yang dikatakan Muhammad bin Ishak, Abu Ma’syar, Musa bin Uqbah dan yang lainnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam  mengikuti langsung dua puluh lima peperangan.

Di antara dua puluh lima peperangan tersebut yang terjadi pertempuran sebanyak sembilan kali yaitu di Badar, Uhud, Khandak, Bani Quraizhah, Mushthaliq, Khaibar, Fathu Makkah, Hunain dan Thaif. Wallahu a’lam.

Kembali ke bagian 1| Lanjut ke bagian 2

***

Katagori : Sirah Nabawiyah

Batam, 13 Ramdahan 1447 H / 03 Maret 2026 M

Penulis : Ondrinaldi Bustamam, Lc., M.A hafidzahullah

(Semoga Allah menjaga beliau dan keluargnya)

Artikel Islam Fiqih Indoneisa.com

Gulir ke Atas