
Merawat Iman, Menjemput Tenang: Rahasia Istiqomah di Jalan Allah
admin . Diposting pada .
FIQIH INDONESIA – Istiqomah secara bahasa berarti tegak lurus. Secara istilah, istiqomah adalah konsisten dan teguh dalam keimanan serta ketaatan kepada Allah, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, senang maupun susah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
إنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqomah, maka malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata: ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.”(QS: Fussilat: 30)
Ayat ini menunjukkan betapa besar kedudukan orang-orang yang istiqomah di sisi Allah. Dan juga merupakan jaminan ketenangan yang luar biasa dari Allah bagi setiap hamba yang berkomitmen menjaga keimanannya. Di dalamnya terdapat formula spiritual yang kokoh: dimulai dari deklarasi iman yang tulus (“Tuhan kami adalah Allah”), lalu diuji dengan keteguhan sikap yang konsisten (“kemudian mereka istiqomah”). Sebagai balasannya, Allah mengirimkan support system terbaik berupa para malaikat yang turun membawa kedamaian jiwa. Kehadiran malaikat ini membawa dua garansi utama yang menghapus kecemasan manusia, yaitu perintah untuk tidak takut menghadapi masa depan (“janganlah kamu takut”) dan tidak meratapi apa yang telah berlalu di masa lalu (“janganlah kamu bersedih hati”).
Pada akhirnya, seluruh lelahnya perjuangan menjaga konsistensi tersebut ditutup dengan sebuah puncak kebahagiaan, yaitu kabar gembira tentang surga yang abadi. Ayat ini menjadi pengingat indah bahwa meski istiqomah itu berat, buah yang dipetik darinya adalah kemuliaan mutlak di dunia maupun di akhirat.
Pentingnya Istiqomah dalam Kehidupan
Banyak orang mampu berbuat baik, tetapi tidak semua mampu bertahan dalam kebaikan. Banyak yang semangat beribadah di awal, namun perlahan semangat itu memudar. Di sinilah pentingnya istiqomah. Dalam sebuah hadits, seorang sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad ﷺ:
عَنْ أَبِيْ عَمْرٍو، وَقِيْلَ، أَبِيْ عَمْرَةَ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِيْ فِي الإِسْلامِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدَاً غَيْرَكَ؟ قَالَ: “ قُلْ آمَنْتُ باللهِ ثُمَّ استَقِمْ” رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Artinya: “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku suatu perkataan tentang Islam yang aku tidak perlu bertanya lagi kepada siapa pun setelah engkau.”Beliau bersabda: “Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqomahlah.” (HR. Muslim)
Tantangan Besar dalam Menjalani Keistiqomahan
Istiqomah bukan perkara mudah. Ada godaan hawa nafsu, lingkungan yang kurang mendukung, serta ujian kehidupan yang silih berganti. Terkadang kita rajin shalat berjamaah, namun karena kesibukan dunia, mulai lalai. Terkadang kita semangat membaca Al-Qur’an, namun kemudian terasa berat.
Namun ingatlah, istiqomah bukan berarti tanpa kesalahan. Istiqomah adalah terus kembali kepada Allah setiap kali kita tergelincir. Jatuh bangun adalah hal biasa, tetapi menyerah bukanlah pilihan seorang mukmin.
Cara Menjaga Keistiqomahan Bagi Setiap Muslim dan Muslimah
Ada beberapa cara agar kita mampu menjaga istiqomah:
- Meluruskan Niat
Dari Umar bin Khathab, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيِهِ
Artinya : “Sesungguhnya segala amalan itu tidak lain tergantung pada niat; dan sesungguhnya tiap-tiap orang tidak lain (akan memperoleh balasan dari) apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya menuju (keridhaan) Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena (harta atau kemegahan) dunia yang dia harapkan, atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu ke arah yang ditujunya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
- Memperbanyak Doa, Memohon Kepada Allah Agar Diteguhkan Hati
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ
Artinya: “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh di dunia dan akhirat.” (QS. Ibrahim: 27)
dan juga:
اَللَّهُمَّ مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ
Artinya: “Ya Allah, Tuhan yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku ini pada agama-Mu”
- Memilih Lingkungan yang Baik
عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
Artinya: “Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk.” (HR. Bukhari dan Muslim)
- Membiasakan Amal Kecil Tetapi Rutin
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya: “Dari Aisyah Rodiyallahu ‘anha, dia berkata, Rasulullah Saw bersabda: ‘Amalan yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala adalah amalan yang berterusan walaupun jumlahnya sedikit.’” (HR. Bukhari )
Buah Manis dari Keistiqomahan
Orang yang istiqomah akan mendapatkan ketenangan hati, keberkahan hidup, serta janji surga dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Hidupnya terarah, tidak mudah goyah oleh perubahan zaman, dan tetap teguh dalam prinsip kebenaran.
Mari kita jadikan diri kita sebagai hamba yang tidak hanya semangat sesaat, tetapi kokoh dalam kebaikan hingga akhir hayat. Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala meneguhkan hati kita di atas agama-Nya.
اللّهُمَّ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا
Artinya: “Ya Allah, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk kepada kami.”
***
Katagori : Adab & Akhlak
Batam, 3 Dzulhijjah 1447 H / 20 Mei 2026 M
Oleh: Ondrinaldi Bustamam, Lc., M.A hafidzahullah
(Semoga Allah menjaga beliau dan keluargnya)
Artikel Islam Fiqih Indoneisa.com
