Catatanku di Malam 27 Ramadhan: Sebuah Renungan Berharga

FIQIH INDONESIA – Dengan memohon pertolongan kepada Allah aku tuangkan sedikit catatan di malam yang penuh keberkahan ini sebagai bentuk kecintaan pada Sunnah Rasulullah dan sebagai nasihat untuk saudara-saudaraku kaum muslimin.

Ada dua permasalahan yang menjadi catatanku terkait dengan amalan sebagian kaum muslimin khususnya di dalam bulan suci Ramadhan:

Pertama:  Tradisi “Kultum”

Sebatas yang aku ketahui “Kultum” atau kuliah tujuh menit yang seringkali kita dapati dirangkaikan dengan ibadah shalat tarawih ini tidak ada dasarnya dalam syari’at Islam. Kebiasaan ini dibangun atas dasar asumsi bahwa merupakan kebaikan memanfaatkan momen berkumpulnya manusia untuk memberikan nasihat-nasihat agama.

Ingatlah saudaraku, ibadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala itu dasarnya tauqifi, yaitu harus berdasarkan dalil dari al-Qur’an dan hadits yang shahih sesuai dengan pemahaman dan pengamalan generasi terbaik ummat ini yaitu para sahabat. Tidak dibangun berdasarkan asumsi baik atau mengikuti analogi manusia.

Sehingga mungkin muncul di benak sebagian kita, bukankah Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam sering mengumpulkan para sahabat untuk memberikan nasihat-nasihat kepada mereka? Tidakkah ini cukup sebagai dasar kita melaksanakan “Kultum” Ramadhan?

Maka Aku katakan, tidak ada keraguan tentang hal tersebut. Tapi menjadikan hal tersebut dalil untuk merutinkan kegiatan “Kultum” Ramadhan tidak tepat. Sebab nasihat-nasihat yang disampaikan Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabat itu bersifat umum dan tidak mengkhususkan waktu dan momen tertentu. Ditambah lagi tidak ada satu pun riwayat yang menunjukkan Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam merutinkan nasihat jelang tarawih baik sebelum ataupun sesudahnya.

Para ulama’ menetapkan kaidah bahwa sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam di zaman beliau dan hal tersebut mampu dilakukan serta tidak ada penghalang untuk melakukannya, maka hal tersebut bukan bagian dari syari’at, melakukannya adalah bid’ah.

Bukan kapasitasku untuk mengatakan “Kultum” Ramadhan adalah bid’ah atau sunnah. Tapi sebagai penuntut ilmu kita diajarkan untuk selalu kritis terhadap amalan agama yang kita lakukan. Para sahabat adalah orang-orang yang paling semangat dalam beribadah, adakah satu riwayat yang menunjukkan mereka memberikan nasihat sebelum atau sesudah tarawih?

Kedua: Kebiasaan Imam Membaca Surat “Al-Qadar” di Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan

Sering sekali aku dapati imam-imam masjid khususnya pada shalat Maghrib dan Isya’ di sepuluh malam terakhir Ramadhan membaca pada salah satu rakaat surat Al-Qadar. Sejatinya hal ini tidak ada masalah padanya, tapi apabila hal ini dilakukan berdasarkan keyakinan bahwa membaca surat Al-Qadar di sepuluh malam terakhir Ramadhan dianjurkan, ini membutuhkan keterangan dari Al-Qur’an maupun hadits.

Sekali lagi, Aku tidak mengingkari tentang membaca surat ini, tapi yang menjadikannya ganjalan di hatiku adalah, kenapa selalu surat ini yang dibaca dan kenapa harus dikhususkan pada sepuluh malam terakhir?

Semoga catatan ini menggugah kita bersama untuk semakin kritis dalam beramal. Sebab bukan banyaknya amal yang kita dituntut, melainkan ikhlas dan benarnya amal. Sungguh Allah berfirman:

الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ

Artinya: “Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu siapa diantara kamu yang paling baik amalnya, dan Dial ah yang maha perkasa lagi maha pengampun.” (QS. Al-Mulk :2)

Berkata Fudhail Bin Iyadh dalam menafsirkan “yang paling baik amalnya” : Yang paling ikhlas dan paling benar. Paling ikhlas dilakukan karena Allah, paling benar sesuai dengan Sunnah Rasulullah.
Semoga Allah memberikan kita taufiq pada apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Wallahu a’lam.

Batam, 27 Ramadhan 1447 H/ 16 Maret 2026

***

Katagori : Amalan

Penulis: Medi Murdiansyah, M.Pd. Hafidzahullah

(Semoga Allah menjaga beliau dan keluarga)

Artikel Islam Fiqih Indonesia.com

Gulir ke Atas