Sebab yang Milik-Nya Akan Kembali: Engkau Tidak Benar-Benar Kehilangan

FIQIH INDONESIA – Mengenai hal ini, sifat mulia dan ucapan orang-orang sabar ketika ditimpa musibah telah Allah Subhanahu wa Ta’ala kabarkan secara abadi di dalam Al-Qur’an sebagai madrasah kehidupan bagi kita semua:

إِنَّا لِله وَ إِنَّا إِلَيهِ رَاجِعُونَ

Artinya: “Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepadaNya.”

Ucapan ini sepintas sangat sederhana. Sering terucap di lisan kita saat mendengar berita kematian seseorang, walaupun sebenarnya ucapan ini tidak dikhususkan pengucapannya pada musibah kematian saja, melainkan diucapkan pada setiap bentuk musibah secara umum.

Jika kita renungkan lebih dalam, ucapan tersebut sangat sarat makna yang bisa menguatkan jiwa seorang dalam kehidupan dunia yang penuh dengan ujian dan cobaan ini.

Sesungguhnya secara hakiki kita tidak memiliki apa-apa di dunia ini. Rumah, mobil, emas dan perak, handphone, pakaian dengan segala acsesorisnya, istri, anak, orang tua, serta karib kerabat, bahkan diri kita sendiri bukan milik kita. Kepemilikan atas semua ini adalah semu, cepat atau lambat, suka ataupun benci, pada waktunya semuanya akan pergi dan lenyap dari kita. Allah berfirman :

وَ إِلَى اللهِ تُرْجَعُ الأُمُورُ

Artinya: “Dan kepada Allah kembali segala urusan.”

Lantas, apa yang harus membuat kita larut dalam kesedihan dan kegelisahan? Jika kepemilikan kita semuanya semu, demikian juga kehilangan kita pun semu. Seorang tidak pernah memiliki dengan sebenarnya, pun demikian sebailiknya, seorang tidak pernah benar-benar kehilangan, dengan catatan ia beriman kepada Allah Subahanahu wata’ala dan hari akhir. Di sana ada harapan akan keabadian dalam kenikmatan yang hakiki yaitu Surga-  Nya dengan segala apa yang Allah Subahanahu wata’ala siapkan di dalamnya bagi hamba-hamba-Nya yang bertaqwa.

Oleh sebab itu, fokus utama seorang hamba yang beriman adalah bagaimana ia mampu meraih kebahagiaan yang hakiki dan abadi di akhirat nanti, tanpa harus mengabaikan peran dan tanggung jawabnya di dunia. Seorang mukmin yang bijak memandang dunia ini bukan sebagai tempat menetap yang abadi, melainkan hanya sebagai pelataran tempat singgah sementara.

Dunia ini sejatinya dijadikan sebagai kendaraan dan jembatan menuju Surga Allah Subhanahu wa ta’ala. Di sinilah tempat menanam, sedangkan akhirat adalah tempat memanen. Maka, sudah sepatutnya setiap fasilitas hidup, sisa usia, kesehatan, dan kelapangan harta yang dititipkan, dimanfaatkan secara optimal untuk memaksimalkan amal-amal shalih. Semua itu akan menjadi bekal utama yang paling berharga saat kita melangkah sendirian menghadap kepada Allah Subhanahu wa ta’ala kelak di hari pembalasan.

Sebab, perjalanan menuju mahsyar dan melintasi shirath adalah perjalanan yang teramat panjang, melelahkan, dan penuh huru-hara bagi mereka yang tidak bersiap. Kehidupan setelah kematian membutuhkan persiapan yang matang dan tidak bisa dilakukan dengan bersantai-santai. Sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengingatkan hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih sayang dalam firman-Nya:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ

Artinya: “Dan berbekallah kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Ayat yang mulia ini menegaskan bahwa pangkat, harta, dan kedudukan duniawi yang mati-matian kita kejar tidak akan sudi menemani kita ke dalam liang lahat. Hanya kain kafan dan ketakwaanlah yang dibawa mati.

Namun, Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk menjadi rahib yang meninggalkan dunia secara total. Islam adalah agama fitrah yang menuntun kita pada keserasian hidup. Kita dituntut untuk berlelah-lelah mengejar kemuliaan akhirat, namun di saat yang sama tetap profesional dan amanah dalam menjalankan roda kehidupan duniawi. Pola hidup yang indah dan seimbang inilah yang diabadikan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dalam untaian firman-Nya:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. Al-Qashash: 77)

Melalui ayat ini, Allah Subhanahu wa ta’ala mendidik kita agar memegang dunia di tangan, bukan menyimpannya di dalam hati. Jauhkan dunia dari ambisi yang membutakan, namun dekatkan ia sebagai sarana ibadah. Jadikan pekerjaan kita sebagai ladang pahala, jadikan keluarga kita sebagai wasilah ke surga, dan jadikan setiap tetes keringat kita dalam mencari nafkah yang halal bernilai syahid di sisi-Nya.

Apabila paradigma ini telah tertanam kuat di dalam dada, maka kehidupan dunia tidak akan lagi melalaikan kita, dan kematian tidak akan lagi menjadi momok yang menakutkan. Setiap aktivitas kita—baik yang bernilai ibadah ritual maupun muamalah sosial—akan mengerucut pada satu tujuan mulia, yaitu menggapai ridha-Nya.

Dengan menjadikan takwa sebagai fondasi utama dan dunia sebagai ladang persemaian amal, kita berharap agar setiap lelah, tangis, dan perjuangan kita di dunia yang fana ini berbuah manis di Jannah-Nya yang kekal.

Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala senantiasa membimbing hati kita, meluruskan niat-niat kita, menguatkan langkah kaki kita di atas ketaatan, serta memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua agar selamat di dunia dan bahagia di akhirat. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.

وصلى الله وسلم على نبينا وعلى آله وصحبه
والحمد لله رب العالمين

Batam, Rabu malam, 3 Dzulhijjah 1447H/ 20 Mei 2026,

***

Katagori : Amalan

Penulis: Medi Murdiansyah, M.Pd. Hafidzahullah

(Semoga Allah menjaga beliau dan keluarga)

Artikel Islam Fiqih

Gulir ke Atas