Thuma’ninah, Rukun Shalat yang Sering Dilalaikan

FIQIH – Shalat adalah tiang agama. Namun ironisnya, banyak kaum Muslimin yang menjaga waktu shalat, rapi dalam gerakan, tetapi lalai pada salah satu rukunnya yang sangat mendasar yaitu thuma’ninah. Thuma’ninah bukan sekadar jeda singkat antar gerakan. Ia adalah ketenangan anggota badan ketika berada di setiap rukun shalat. Tanpanya, shalat bisa tidak sah.

Apa Itu Thuma’ninah?
Secara bahasa, thuma’ninah berarti tenang dan stabil. Secara istilah fiqih, thuma’ninah adalah diam sejenak hingga setiap anggota tubuh kembali ke posisi normal dalam setiap rukun shalat: rukuk, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan duduk tasyahud. Nabi ﷺ bersabda kepada seorang sahabat yang shalatnya tergesa-gesa,

“Kembalilah dan shalatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits ini, Nabi ﷺ mengulang perintah tersebut hingga tiga kali, lalu menjelaskan bahwa sebab shalatnya tidak sah adalah tidak adanya thuma’ninah.

Fenomena Shalat Tanpa Thuma’ninah
Hari ini sering kita jumpai, diantaranya:

  • Rukuk shalat hanya sekadar membungkuk lalu langsung bangkit layaknya burung gagak yang mematuk makanannya.
  • Sujud yang belum tenang sudah berpindah
  • Duduk di antara dua sujud yang hampir tak terlihat

Semua ini sering terjadi disebabkan oleh faktor berikut:

  • Terburu-buru mengejar urusan dunia
  • Menganggap shalat sebagai rutinitas, bukan ibadah hati
  • Kurangnya pemahaman tentang rukun shalat

Padahal, shalat adalah momen menghadap Allah, bukan lomba kecepatan. Thuma’ninah adalah gerbang khusyuk. Hati sulit tenang jika badan saja gelisah.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa shalat tanpa thuma’ninah ibarat tubuh tanpa ruh. Ada bentuknya, tapi kehilangan hakikatnya.

Ketika kita memberi waktu pada setiap gerakan shalat, kita sedang memberi ruang bagi hati untuk hadir.

Hal-hal yang dapat membantu seorang agar thuma’ninah dalam shalatnya

  • Sadari bahwa thuma’ninah adalah rukun, bukan sunnah
  • Berhenti sejenak di setiap rukun minimal satu bacaan wajib
  • Hayati bacaan shalat, bukan sekadar melafalkannya
  • Tanamkan di dalam hati, bahwa boleh jadi ini adalah shalat terakhir kita.

Nabi ﷺ bersabda:

“Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.”
(HR. Bukhari)

Dan shalat Nabi ﷺ adalah shalat yang tenang, tertata, dan penuh kekhusyu’an dan penghayatan. Sungguh memperbaiki shalat bukan berarti memperlama, tetapi menyempurnakan. Thuma’ninah mengajarkan kita untuk melambat di hadapan Allah, meski dunia menuntut kita serba cepat.

Demikian, semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan shalat kita shalat yang hidup, bukan sekadar gerakan. Karena boleh jadi, yang membedakan shalat diterima dan ditolak adalah ketenangan dalam mengerjakannya.

Penulis : Medi Murdiansyah, M.Pd hafidzahullah

(semoga Allah menjaga beliau dan keluarganya)

Gulir ke Atas