Dimana Allah ?

AQIDAH – Ketika pertanyaan di atas kita lemparkan ke tangah –tengah kaum muslimin di zaman ini, maka beragam reaksi dan jawaban yang kita dapatkan. Sebagian akan mengatakan bahwa Alloh subhanahu wa ta’ala ada di mana-mana , ada juga yang meyakini kalau Alloh subhanahu wa ta’ala itu tidak berada di mana-mana, ada juga sebagian yang menganggap tabu pertanyaan tersebut dan menentang dengan keras orang yang menanyakannya, karena di yakini bahwa hal ini merupakan permasalahan yang tidak boleh sama sekali di tanyakan.

Itulah realita yang kita dapatkan, lalu bagaimana sebenarnya Islam menerangkan hal tersebut? Mungkinkah permasalahan urgen semacam ini luput dari penjelasan agama yang telah disempurnakan dan di ridhoi Alloh?

Para ulama Ahlussunnah telah sepakat tentang sifat Uluww (tinggi) bagi Alloh, bersemayam di atas Arsy-Nya, tinggi di atas seluruh makhluk-Nya. Tidaklah mengingkarinya kecuali orang yang telah Alloh subhanahu wa ta’ala butakan hatinya dari golongan jahmiyah, mu’tazilah, dan selain mereka dari kelompok-kelompok sesat yang berpaling dari kitab Alloh subhanahu wa ta’ala dan sunnah nabi-Nya dimana mereka berhukum dengan akal dan pendapat syaikh-syaikh mereka.

Dalil-dalil dari Al Qur’an

Apabila kita tadabburi, maka nash-nash Al Qur’an banyak sekali menetapkan tentang ketinggian Alloh subhanahu wa ta’ala di atas seluruh makhluk-Nya dengan beragam uslub (ungkapan), diantaranya;

Pertama, dengan lafadz istiwa’ di atas Arasy.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman :

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى 

Artinya: “Alloh yang maha pemurah bersemayam di atas Arasy.” ( QS. Thaha: 5)

Ayat yang mulia ini menerangkan bahwa Alloh subhanahu wa ta’ala ber-istiwaa’ (bersemayam) di atas Arasy sesuai dengan keagungan-Nya, istiwaa’ maknanya “meninggi” dan “menetap”. Adapun bersemayamnya Alloh subhanahu wa ta’ala tidak sama dengan makhluq-Nya, Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya: “Tidak ada yang serupa dengan Dia, dan Dia maha mendengar lagi maha melihat.” (QS. Asy Syura : 11)

Alloh subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

Artinya: “Dialah Alloh yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian bersemayam di atas Arasy.” (QS. al Hadid : 4)

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

الله الذي خلق السموت و الأرض وما بينهما في ستة أيام ثم استوى على العرش, ما لكم من دونه من ولي ولاشفيع أفلا تتذكرون

Artinya: “Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari padaNya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” ( QS. As Sajdah : 4)

Kedua,dengan lafadz علي (aliy) atau أعلى (A’laa)

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

ذلك بأن الله هو الحق وأن ما يدعون من دونه الباطل وأن الله هو العلي الكبير

Artinya: “Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah yang hak, dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah itulah yang batil; dan sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Luqman : 30)

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

له ما في السموت وما في الأرض وهو العلي العظيم

Artinya: “Kepunyaan-Nya-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. As Syuro : 4)

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

سبح اسم ربك الأعلى

Artinya: “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi.” (QS. Al A’la : 1)

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

إلا ابتغاء وجه ربه الأعلى

Artinya: “..tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi.” (QS. Al Lail : 20)

Ketiga, dengan lafadz فوق (di atas)

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

وهو القاهر فوق عباده وهوالحكيم الخبير

Artinya: “Dan Dialah yang berkuasa diatas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al An’am : 18)

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

يخافون ربهم من فوقهم ويفعلون ما يؤمرون

Artinya: “Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).” (QS. An Nahl : 50)

Keempat, dengan menerangkan naiknya sesuatu kepada-Nya atau Alloh mengangkatnya ke atas

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

إليه يصعد الكلم الطيب و العمل الصالح يرفعه

Artinya: “Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik,dan amal yang shaleh dinaikkan-Nya.” (QS. Fathir : 10)

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

إذ قال الله يعيسى إني متوفيك ورافعك إلي

Artinya: “(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku …” (QS. Ali Imron : 55)

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

تعرج الملاءكة والروح إليه في يوم كان مقداره خمسين ألف سنة

Artinya: “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.”(QS. Al Ma’arij: 4)

Kelima, dengan menerangkan turunnya sesuatu dari sisi Alloh

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

تنزيل الكتاب لا ريب فيه من رب العالمين

Artinya: “Turunnya Al-Quran yang tidak ada keraguan di dalamnya, (adalah) dari Tuhan semesta alam.” (QS. As Sajdah : 2)

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

حم* تنزيل الكتاب من الله العزيز العليم

Artinya: “Haa Miim. Diturunkan Kitab ini (Al Quran) dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. Ghofir : 1-2)

Pengambilan dalil dari poin keempat dan kelima adalah, “tidaklah mungkin sesuatu yang naik atau di angkat melainkan dari bawah ke atas, demikian juga sebaliknya, sesuatu yang turun tentu dari atas ke bawah, wallohu a’lam.

Dalil-dalil dari As Sunnah

Diantara riwayat yang menetapkan sifat Uluww bagi Alloh subhanahu wa ta’ala, Rosululloh Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ألا تؤمنوني وأنا أمين من في السماء؟

Artinya: “Tidakkah kalian beriman kepadaku sementara aku adalah kepercayaan dzat yang ada di langit?

Dalam riwayat lain Nabi pernah bertanya kepada seorang budak wanita,

أين الله؟ قالت : في السماء.قال: من أنا؟ قالت : أنت رسول الله, قال أعتقها فإنها مؤمنة

Artinya: “Dimana Alloh? Dia berkata : di langit, Nabi bertanya : siapa aku? Dia menjawab : engkau Rosululloh. Maka Nabi bersabda : bebaskan dia, sesungguhnya dia seorang mu’minah.(HR. Muslim)

Lihatlah, bagaimana Rosululloh Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersaksi atas keimanan budak wanita tersebut setelah dia menjawab pertanyaan beliau dengan jawaban yang gamblang tanpa basa-basi, wanita tersebut mengatakan “Alloh di langit”. Terlintaskah dalam benak kita kalau wanita budak tadi senantiasa hadir di majlis-majlis Rosululloh Shallallohu ‘alaihi wa sallam sehingga dengan mudahnya ia menjawab soal beliau? Wallohi tidak sama sekali!

Bahkan, hari-harinya dilalui jauh dari keramaian, menggembalakan kambing majikannya di lembah-lembah dan pulang menjelang malam. Impiannya hanyalah mengharap suatu saat majikannya memerdekakannya. Tapi dengan kejernihan fithrohnya,dia mampu menjawab sebuah pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh sebagian para sarjana bahkan doktor-doktor pada hari ini, sungguh ironis.

Dalil Aqli

Sesungguhnya Alloh subhanahu wa ta’ala menciptakan akal manusia sesuai dengan syari’at-Nya, maka tidak akan mungkin wahyu (Al Qur’an dan Sunnah) bertentangan selama-lamanya. Kalaupun terlihat seakan bertentangan, itu disebabkan oleh keterbatasan akal manusia memahami nash-nash Al Qur’an maupun hadits-hadits nabi.

Demikian halnya dengan penetapan sifat Uluww, akalpun menetapkannya. Kita katakan kepada orang-orang yang mengingkari sifat Uluww bagi Alloh subhanahu wa ta’ala, semua arah yang ada; kanan, kiri, depan, belakang, atas, dan bawah, manakah yang paling mulia? Tidak syak lagi “atas” merupakan tempat yang paling mulia sesuai dengan akal sehat manusia. Maka Alloh subhanahu wa ta’ala lebih berhak atas kemuliaan tersebut.

Dalil Fithroh (tabi’at)

Secara fithroh manusia mengakui tentang sifat Uluww Alloh subhanahu wa ta’ala, hal ini kita dapatkan salah satunya saat berdo’a, dimana hati tertuju kepada zdat yang maha tinggi dan terbukti dengan kita menengadahkan kedua tangan ke atas. Terdapat kisah menakjubkan dalam masalah ini ketika Al Hamadzany datang ke majelis Al Juwainiy yang ketika itu sedang berada di tengah-tengah muridnya dan membahas penafian sifat Uluww bagi Alloh. Maka Al Hamadzany berkata kepada Al Juwainiy, “Wahai ustadz, jelaskanlah kepada kami tentang keadaan darurat yang kami dapatkan dalam diri kami bahwa tidaklah seorang insan saat bermunajat kepada Alloh kecuali dia dapati dalam dirinya Alloh berada di atas… maka seketika Al Juwainiy turun dari kursinya kemudian memukul kepalanya seraya mengatakan : Al Hamadzany membingungkanku… Al Hamadzany membingungkanku…

Akhirnya kami memohon kepada Alloh agar memberikan manfaat dari apa yang kami usahakan dan mengampuni kesalahan-kesalahan kami serta meneguhkan hati-hati para pengikut Nabi-Nya sampai hari pembalasan. Sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada penghulu para Rosul, Muhammad bin Abdillah, keluarga dan sahabat-sahabat beliau, wa’aakhiru da’waa anaa Alhamdulillahi robbil Alamiin.

Penulis: Medi Murdiansyah, M.Pd hafidzahullah

(Semoga Allah menjaga beliau dan keluarganya)

Gulir ke Atas