Siapakah Imam Asy-Syafi’I ?

Siapakah Imam Asy-Syafi’I ?

Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Sesungguhnya Allah telah mentakdirkan pada setiap seratus tahun ada seseorang yang akan mengajarkan Sunnah dan akan menyingkirkan para pendusta terhadap Rasulullah.., Kami berpendapat pada seratus tahun yang pertama Allah mentakdirkan Umar bin Abdul Aziz dan pada seratus tahun berikutnya Allah mentakdirkan Imam Asy-Syafi`i”.

Nasab Nama lengkap Imam Asy-Syafi’i

Beliah adalah Abû Abdullah Muhammad bin Idris bin Al-Abbâs bin Utsmân bin As-Sabi bin Ubaid bin Abd Yazid bin Hâsyim bin Abdul Muththalib bin Abd Manâf bin Qushay al-Quraisyi al-Muthallibi. Nasab Imam Asy Syafi’i bertemu dengan nasab Rasulullah pada titik Abd Manaf. Dengan demikian, bila ditarik dari jalur paman dan bibi Imam Asy-Syafi’i dari jalur ayah, ia adalah kemanakan jauh Rasulullah. Sementara jika dirunut nasab bibinya dari jalur ibu, maka ia adalah kemanakan jauh dari Ali radhiyallohu ‘anhu. Ibunya berasal dari suku Azdi. Nama kunyah-nya adalah Habîbab al-Azdiyah.

Ada hal yang patut dikemukakan tentang pribadi Ibunda Imam Asy Syafi’i. Memang benar, nama lengkap Ibunda Imam Asy-Syafi’i tidak diketahui secara pasti. Namun yang jelas, ia adalah sosok ibu yang cerdas, ibu teladan, dan ibu pendidik yang menyadari hak dan kewajibannya secara proporsional. Ia merantau bersama putranya ke Mekkah, tanah air nenek moyangnya, bukan untuk menghidangkan makanan yang enak dan mengenakan pakaian mewah kepada anaknya. Bagaimana mungkin hal itu dapat dilakukan, sementara ia sendiri adalah wanita miskin yang menjaga kehormatan dan enggan meminta-minta. Tujuan utama membawa Imam Asy-Syafi’i ke Mekkah adalah agar anak dapat menikmati lezatnya berbagai hidangan ilmu di kota suci itu dan budi pekerti luhur. Akhirnya Allah mengabulkan keinginan dan harapan sang ibunda, karena puteranya mampu memberikan sumbangsih yang terbaik untuk ummat Islam. Sehingga sang ibunda patut mendapatkan penghargaan dan pujian.

Tahun dan Tempat Kelahiran

Para sejarawan berkata bahwa Imam Asy-Syafi’i lahir pada tahun 150 H. yang merupakan tahun wafatnya Imam Abû Hanîfah, namun tidak ada yang memastikan bulannya. Dan beliau wafat pada malam jumat 29 Rajab 204 H bertepatan dengan 19 Januari 820 M, dalam usia 54 tahun, di Fustat, Mesir.1 Beliau dilahirkan di desa Ghazzah, masuk kota Asqolan pada tahun 150 H. Saat beliau dilahirkan ke dunia oleh ibunya yang tercinta, bapaknya tidak sempat membuainya, karena ajal Allah telah mendahuluinya dalam usia yang masih muda. Lalu setelah berumur dua tahun, paman dan ibunya pindah ke kota kelahiran Nabi Muhammad, Makkah Al Mukaramah.

Pertumbuhan dan  Mencari Ilmu

Imam Asy-Syafi’i tumbuh di Negeri Ghazzah sebagai seorang yatim setelah ayahnya meninggal. Oleh karena itu, berkumpullah pada dirinya kefaqiran, keyatiman dan keterasingan dari keluarga. Namun, kondisi ini tidak menjadikannya lemah dalam menghadapi kehidupan setelah Allah memberinya taufik untuk menempuh jalan yang benar.

Setelah sang ibu membawanya ke tanah Hijaz, yakni kota Mekkah, mulailah Imam Asy-Syafi’i menghafal Al-Quran sehingga ia berhasil merampungkan hafalannya pada usia tujuh tahun, hafal kitab al- Muaththa (karya Imam Malik) dalam usia 10 tahun. Pada usia 15 tahun (ada yang mengatakan 18 tahun), Imam Asy-Syafi’i berfatwa setelah mendapat izin dari Syaikhnya yang bernama Muslim bin Khâlid az-Zanji.

Sebab Ketertarikan Beliau Pada Ilmu Fiqih

Para ulama masih berbeda pendapat mengenai sebab ketertarikan Imam Asy-Syafi’i mempelajari fiqih secara intens. Imam Nawawi menyebutkan sebuah riwayat dari Az-Zubairi. Ia berkata, Syafi’i pada mulanya gemar belajar syair, psikologi masyarakat Arab dan kesusasteraan Arab. Setelah itu, barulah ia menekuni fiqih. Hal ini dilatar belakangi oleh satu peristiwa bahwa pada suatu hari ia bepergian dengan kenderaan unta bersama sekretarisnya Abu Basuthah yang turut serta dibelakangnya. Lalu Imam Asy-Syafi’i berpantun dengan sebuah bait syair. Tiba-tiba juru tulis itu menggetok kepalanya, kemudian ia berkata: “Orang sepertimu yang mahir dalam bidang bahasa, hadis dan ilmu jiwa (psikologi), apa sudah merasa cukup dengan ilmumu itu ? Lalu bagaimana dengan ilmu fiqihmu ? Tanya juru tulis itu.

Teguran itu benar-benar menggoncangkan jiwa Imam Asy-Syafi’i. Maka sejak itu, ia mulai datang ke majelis Muslim bin Khalid az-Zanji, seorang mufti Mekkah saat itu. Selanjutnya Imam Asy-Syafi’i belajar secara rutin kepada Imam Malik bin Anas.

Imam Asy-Syafi’i terus mengasah ilmu agamanya kepada Imam Malik sampai sang guru wafat pada tahun 179 H. Hal yang dilakukannya pun tidak sia-sia, karena semua ilmu sang guru telah berhasil diserap dan secara umum Imam Asy-Syafi’i merupakan murid terbaik Imam Malik. Tidak hanya itu, ia pun gigih membela sang guru dari rival-rivalnya dan hingga beliau (Imam Syafi’i) menjadi Ulama’ fiqih yang kredibel dan memiliki banyak pengikut bahkan sampai sekarang ini.

Penulis : Yahya Tohari, S.H., M.M., M.A hafidzahullah 

(semoga Allah menjaga beliau dan keluarganya)

Referensi

  • Ahmad Al-Baihaqi, Biografi Imam Syafii, (t.t. Shahih, 2016), h. 9
  • Dr. Ahmad Nahrawi Abdus Salam al-indunisi, al-Imam Syafii fi Mazhabihi al-Qadim wa al-Jadid, Diterjemahkan oleh Utsman Syaroni, S.Ag., Lc., dengan judul “Ensiklopedia Imam Syafii”, (Jakarta: Hikmah, 2008), h. 4
  • Ahmad Nahrawi , al-Imam Syafii fi Mazhabihi al-Qadim wa alJadid Diterjemahkan oleh Utsman Syaroni, S.Ag., Lc., dengan judul “Ensiklopedia Imam Syafii”, (Jakarta: Hikmah, 2008), h. 9.
  • Dr. Muhammad bin A.W. al-Aqil, Manhaj Aqidah Imam Asy-Syafii Rahimahullah Taala fi Itsbaat al-Aqidah, Diterjemahkan oleh H. Nabhani Idris, Saefuddin Zuhri, dengan judul Manhaj Aqidah Imam Asy-Syafii Rahimahullah Taala”, (Surabaya: Pustaka Imam Asy-syafiI, 2006), h. 18
  • Muhammad bin A.W. al-Aqil, Manhaj Aqidah Imam Asy-Syafii Rahimahullah Taala fi Itsbaat al-Aqidah, Diterjemahkan oleh H. Nabhani Idris, Saefuddin Zuhri, dengan judul Manhaj Aqidah Imam Asy-Syafii Rahimahullah Taala”, (Surabaya: Pustaka Imam Asy-syafiI, 2006), h. 20
Gulir ke Atas