Menaati Pemimpin: Kunci Kestabilan dan Kemakmuran
admin . Diposting pada .
FIQIH INDONESIA – Islam mengajak kaum muslimin agar senantiasa taat kepada pemimpin selama tidak memerintahkan untuk berbuat maksiat, meskipun mereka berbuat dzolim, karena ketaatan kepada mereka termasuk ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla.
Hadits Tentang Taat Kepada Pemimpin
Ketaatan kepada pemimpin adalah kewajiban. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda,
مَنْ أَطَاعَنِيْ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ، وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيْرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ عَصَى أَمِيْرِي فَقَدْ عَصَانِي
Artinya: “Barangsiapa yang taat kepadaku berarti ia telah taat kepada Allah dan barangsiapa yang durhaka kepadaku berarti ia telah durhaka kepada Allah, barangsiapa yang taat kepada amirku (yang muslim) maka ia taat kepadaku dan barangsiapa yang maksiat kepada amirku, maka ia maksiat kepadaku.” (HR. Bukhari & Muslim)
Dalam hadits yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga bersabda,
لاَطاَعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوْفِ
Artinya: “Tidak (boleh) taat (terhadap perintah) yang di dalamnya terdapat maksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam kebajikan”. (HR. Bukhari & Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada pemimpin atau orang lain tidak boleh dilakukan jika perintahnya mengandung maksiat kepada Allah. Ketaatan hanya berlaku dalam hal-hal yang baik dan sesuai dengan ajaran agama. Jadi, jika pemimpin memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan agama, maka tidak boleh ditaati.
Ketaatan kepada pemimpin adalah bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul, karena mendengar dan taat kepada pemimpin akan membawa kemaslahatan bagi umat. Dengan ketaatan ini, urusan agama akan tegak dan keadaan dunia akan menjadi baik.
Adab Kepada Pemimpin
- Mendengar dan taat kepada penguasa dalam hal yang baik maupun yang tidak disukai, kecuali jika diperintahkan melakukan maksiat
- Tidak memberontak, mengangkat senjata, atau melakukan kudeta terhadap pemimpin
- Menasihati pemimpin dengan cara yang baik
- Mendoakan mereka dengan kebaikan, bukan keburukan, meskipun mereka pemimpin yang zalim. Kezaliman akan kembali kepada diri mereka sendiri, sementara jika mereka baik, maka mereka dan seluruh kaum Muslimin akan merasakan manfaat dari do’anya
Imam al-Barbahari rahimallahu dalam kitab syarhus sunnah menjelaskan, “Jika engkau melihat seseorang mendo’akan keburukan kepada pemimpin, ketahuilah bahwa ia termasuk salah satu pengikut hawa nafsu, namun jika engkau melihat seseorang mendo’akan kebaikan kepada seorang pemimpin, ketahuilah bahwa ia termasuk Ahlus Sunnah, insya Allah.”
Mengambil hikmah dari penjelasan Imam al-Barbahari rahimallahu ini maka pentingnya memiliki sikap yang baik terhadap pemimpin, termasuk mendoakan kebaikan bagi mereka. Imam al-Barbahari menyatakan bahwa orang yang mendoakan keburukan kepada pemimpin adalah pengikut hawa nafsu, sedangkan yang mendoakan kebaikan adalah Ahlus Sunnah. Ini menunjukkan bahwa Ahlus Sunnah memiliki sikap yang positif dan konstruktif terhadap pemimpin, meskipun mereka mungkin tidak sempurna.
Referensi
- Kitab syarah Aqidah Ahlu Sunnah wal jamaah Penulis “ Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa. Hadits Arbain An-Nawawi
***
Katagori : Adab & Akhlak
Penulis : Ondrinaldi Bustamam, Lc., M.A hafidzahullah
(Semoga Allah menjaga beliau dan keluarganya)
