Tazkiyatun Nufus: (Bag. 01) Apa Itu Jiwa yang Bersih ?

FIQIH INDONESIA – Jiwa yang bersih adalah jiwa yang telah dibersihkan dari kotoran-kotoran hati, seperti hasad, dengki, sombong, dan lain-lain. Jiwa yang bersih adalah jiwa yang telah diisi dengan cahaya iman, taqwa, dan akhlak mulia. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Quran:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْ

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini menunjukkan bahwa jiwa yang bersih adalah jiwa yang telah berusaha untuk mengubah diri sendiri menjadi lebih baik. Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

Artinya: “Sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, jika daging itu baik maka baiklah seluruh tubuhnya, dan jika daging itu buruk maka buruklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa jiwa yang bersih adalah jiwa yang memiliki hati yang baik.
Jiwa yang bersih adalah jiwa yang telah mencapai tingkat kesucian dan kejernihan. Jiwa yang bersih adalah jiwa yang telah terbebas dari belenggu hawa nafsu dan syahwat. Jiwa yang bersih adalah jiwa yang telah diisi dengan cahaya ilmu dan iman.

Dalam Islam, jiwa yang bersih adalah jiwa yang telah mencapai tingkat takwa, yaitu jiwa yang selalu berusaha untuk menjalankan perintah Allah Subhanahu wa ta’ala dan menjauhi larangan-Nya. Jiwa yang bersih adalah jiwa yang telah mencapai tingkat ihsan, yaitu jiwa yang selalu berusaha untuk berbuat baik dan beramal saleh.

Jiwa yang bersih juga adalah jiwa yang telah mencapai tingkat kesabaran, yaitu jiwa yang selalu berusaha untuk menahan diri dari kemarahan dan kesabaran. Jiwa yang bersih adalah jiwa yang telah mencapai tingkat syukur, yaitu jiwa yang selalu berusaha untuk mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa ta’ala.

Dalam mencapai jiwa yang bersih, kita harus berusaha untuk membersihkan hati kita dari kotoran-kotoran hati, seperti hasad, dengki, sombong, dan lain-lain. Kita harus berusaha untuk mengisi hati kita dengan cahaya iman, taqwa, dan akhlak mulia.

Kita juga harus berusaha untuk menjalankan perintah Allah Subhanahu wa ta’ala dan menjauhi larangan-Nya. Kita harus berusaha untuk berbuat baik dan beramal saleh. Kita harus berusaha untuk menahan diri dari kemarahan dan kesabaran. Kita harus berusaha untuk mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa ta’ala.

Dengan demikian, kita dapat mencapai jiwa yang bersih dan suci. Jiwa yang bersih adalah jiwa yang telah mencapai tingkat kesucian dan kejernihan. Jiwa yang bersih adalah jiwa yang telah terbebas dari belenggu hawa nafsu dan syahwat. Jiwa yang bersih adalah jiwa yang telah diisi dengan cahaya ilmu dan iman.

Sebagai agama yang sempurna, Islam tidak saja memperhatikan urusan kebersihan fisik atau jasmani yang bisa langsung terlihat dan dinilai secara kasat mata. Misalnya, kebersihan diri dan lingkungan. Kedua jenis kebersihan ini akan segera terlihat ketika seseorang belum mandi atau lingkungannya belum dibersihkan. Mereka yang melihatnya pun akan dengan mudah menilai tingkat kebersihannya.

Lebih dari itu, Islam ternyata juga sangat memperhatikan kebersihan rohani atau hati, yang sifatnya lebih tersembunyi. Dengan kata lain, tidak bisa langsung terlihat begitu saja. Bahkan, menjaga kebersihan hati merupakan salah satu kewajiban yang paling penting untuk diperhatikan.

Bagi manusia, hati dapat diibarat sebagai raja bagi anggota tubuh lainnya. Bila hati itu baik, akan baiklah seluruh anggota tubuh lainnya. Sebaliknya, bila hati rusak atau sakit, akan rusak atau sakit pula anggota tubuh yang lain.

Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya di setiap jasad ada sekerat daging. Manakala sekerat daging tersebut baik, akan baik pula seluruh jasad. Namun, manakala sekerat daging tersebut rusak, akan berakibat rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah, sekerat daging tersebut adalah kalbu.”

Hati manusia pun terdiri ada beberapa macam. Ada hati yang sakit atau qalbun maridh. Ada hati yang mati atau qalbun mayyit. Dan terakhir adalah hati yang bersih, selamat atau sehat yang disebut dengan qalbun salim. Dua jenis hati yang pertama adalah hati yang terkena keburukan atau tidak selamat, sementara hati yang terakhir itulah hati yang selamat.

Hati yang bersih akan tercermin lewat lurusnya akidah, mulianya akhlak, serta indahnya perilaku keseharian. Hati yang bersih adalah hati yang selamat, maksudnya adalah hati yang bersih dari kesyirikan, penuh keikhlasan dan ketaatan, serta kecintaan kepada Rabbnya. Dengan kebersihannya inilah, sang pemilik hati kelak akan menjadi orang-orang yang selamat dunia akhirat. Dan kelak, di hari akhir, pemiliknya akan mendapatkan tempat yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala.

Lalu bagaimana caranya menilai sebuah hati, apakah ia termasuk hati yang bersih dan selamat atau tidak? Pada hakikatnya, hati yang bersih mempunyai beberapa tanda di antaranya adalah:

  • Senantiasa Mendahulukan Hal-Hal yang Bermanfaat. Tanda kebersihan hati seseorang adalah ia selalu mengutamakan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya, baik dunia maupun akhirat. Mendahulukan hal-hal yang akan menambah keimanannya, seperti menuntut ilmu syar’i, tadarrus dan tadabbur Al Qur’an, membaca buku-buku yang bermanfaat, dan sebagainya.
  • Senantiasa Mendahulukan Kepentingan Akhirat. Hati yang bersih akan selalu mendahulukan kepentingan akhirat daripada dunia. Ia sadar bahwa dunia hanyalah sementara karena itu ia mengejarnya cukup sekadarnya.
  • Senantiasa Mengingat Allah Subhanahu wa ta’ala. Di manapun dan kapan pun, hatinya selalu tertambat pada-Nya. Ia juga menyadari hakikat dirinya sebagai seorang hamba yang penuh dengan noda dan dosa. Karenanya, ia selalu beristighfar, meminta ampun, dan bertobat pada Allah Subhanahu wa ta’ala. Hidupnya pun sepenuhnya hanya digantungkan kepada-Nya.
  • Senantiasa Beribadah Kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Tak pernah jemu melakukan ketaatan dan ibadah kepada-Nya. Justru, ia selalu rindu untuk berada dalam ketaatan karena hanya dengan itulah, ia bisa merasakan ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan.
  • Senantiasa Bersedih Apabila Terluput dari Mengerjakan Ketaatan atau Ibadah. Hati yang bersih akan sangat bersedih ketika ia kehilangan kesempatan melakukan kebaikan atau ibadah. Kesedihannya bahkan melebihi kesedihan orang yang kehilangan harta benda yang sangat disayanginya. Terlebih, bila ketaatan atau ibadah tersebut selama ini rutin dilakukannya. Misalnya, ia rutin mengerjakan shalat dhuha, berdzikir pagi dan petang, dan sebagainya.

Wallahu a’lam.

Bagian Pertama| Lanjut ke bagian kedua

***

Katagori : Tazkiyatun Nufus

Batam, 24 Dzulhijjah 1447 H / 10 Juni 2026 M

Oleh: Dr. (H.C.) Yahya Tohari, S.H., M.M., M.A hafidzahullah

(Semoga Allah menjaga beliau dan keluargnya)

Artikel Islam Fiqih Indoneisa.com

Referensi:

  • Fiqih Tazkiyatun Nufus untuk Muslim Zaman Now Karya Dr. (H.C) Yahya Tohari, M.A

Gulir ke Atas