Sesatkah Setiap Bid’ah?

FIQIH INDONESIA – Sebuah kata yang membuat panas telinga sebagian orang saat mendengarnya, wajahpun memerah, darah seakan mendidih diiringi detak jantung yang kian bergemuruh, tubuhpun bergetar seolah ingin menerkam orang yang mengucapkan kata tersebut… itulah kata “Bid’ah”.

Demikianlah keadaan sebagian orang yang menisbatkan diri kepada ilmu pada hari ini, kata “bid’ah” terasa bagaikan petir yang menyambar di telinga mereka, begitu antipatinya mereka dengan kalimat yang senantiasa diulang-ulang oleh Rasulullah sholallohu ‘alaihi wasallam di khutbah-khutbah dan majelis-majelis beliau, sehingga sebagian dari mereka menyelewengkan maksud dari kalimat ini untuk melegitimasi amalan bid’ah yang mereka gandrungi.

Lalu bagaimana sebenarnya kedudukan bid’ah dalam timbangan syari’at yang mulia ini? Apa yang dikatakan para sahabat serta generasi sesudah mereka dari kalangan imam Ahlussunnah tentangnya? Semoga apa yang kami susun berikut, bisa menjawab sekelumit permasalahan ini.

Makna Bid’ah
Bid’ah secara bahasa berarti mengadakan sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. Jika dikatakan, “ si A telah membuat barang baru yang tidak pernah ada sebelumnya”, maka si A telah berbuat bid’ah secara bahasa. Makna ini sesuai dengan firman Allah sebagai berikut,

بَدِيْعُ السّماوَاتِ وَالأَرْضِ…

Artinya: “(Allah) pencipta langit dan bumi…” (QS. Al Baqoroh: 117)

Ayat yang mulia ini menerangkan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya, sehingga Allah subhanahu wata’ala menggunakan kata “بَدِيْعُ” yang artinya menciptakan tanpa contoh sebelumnya. Dalam ayat yang lain Allah subhanahu wata’ala berfirman,

قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مَّنَ الرُّسُلِ…

Artinya: “Katakanlah(wahai Muhammad) aku bukanlah rasul pertama diantara rasul-rasul…”(QS. Al Ahqof : 9)

Allah subhanahu wata’ala memerintahkan kepada Rasulullah sholallohu ‘alaihi wasallam untuk mengatakan kepada ummatnya bahwa beliau bukanlah rasul pertama (baru), dimana telah ada rasul-rasul sebelum beliau yang Allah subhanahu wata’ala utus kepada kaumnya. Maknanya, bahwa Rasulullah sholallohu ‘alaihi wasallam tidak melakukan bid’ah dalam pengakuannya sebagai rasul yang di utus Allah.

Adapun menurut istilah syara’, bid’ah sebagaimana yang dikatakan oleh imam Asyathibi dalam kitabnya Al I’tishom, yaitu sebagai berikut,

عِبَارَةٌ عَنْ طَرِيْقَةٍ في الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٌ, تُضَاهِي الشَّرِيْعَةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوكِ عَلَيْهَا المُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُّدِ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Artinya: “Ungkapan tentang thoriqoh(jalan) didalam agama yang dibuat-buat, menyerupai syari’at, ditempuh dengan maksud untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah.”

Dari definisi diatas dapat kita petik beberapa faedah, sebagai berikut,

  • Bid’ah adalah jalan atau cara dalam agama, maka keluar dari pembahasan ini seluruh perkara yang bukan dari agama. Dengan kata lain, perkara keduniaan tidak termasuk dalam masalah bid’ah.
  • Dibuat-buat, maksudnya amalan bid’ah tidak memiliki dasar atau dalil, baik dari al Qur’an maupun Sunnah yang shohihah, tidak juga dari ijma’ para sahabat.
  • Menyerupai syari’at, inilah kenyataannya. Bid’ah apabila dilihat sepintas sangat mirip dengan syari’at, sehingga kebanyakan manusia tergelincir dan jatuh kedalamnya.
  • Dimaksudkan untuk beribadah kepada Allah. Para pelaku bid’ah tidaklah mengamalkan bid’ah untuk perkara yang sia-sia, bahkan mereka melakukan itu dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah.

Macam-Macam Bid’ah

Al imam Assyathiby membagi bid’ah menjadi tiga jenis, yaitu,

  1. Bid’ah Haqiqiyah, yaitu suatu amalan yang tidak memiliki dasar sama sekali dari Al Qur’an dan sunnah yang sohihah, tidak juga dari ijma’ para sahabat dan imam-imam ahlussunnah. Contohnya ; perayaan hari lahir nabi atau maulid yang kebanyakan kaum muslimin merayakannya pada bulan Robi’ul awwal, peringatan nuzulul Qur’an, peringatan malam Isra’ dan Mi’raj, dan sebagainya.
  2. Bid’ah Idhofiyah, yaitu amalan yang apabila ditinjau dari satu sisi maka amalan tersebut memiliki dasar dari Al Qur’an maupun Sunnah, namun dikatakan bid’ah karena dalam sifat atau cara pengamalannya menyimpang dari apa yang dicontohkan Rasulullah, atau waktu mengamalkannya dikhususkan sedangkan syari’at tidak mengkhususkannya. Contohnya; sholat pada malam nishfu Sya’ban dan puasa pada siangnya, dzikir secara berjamaah dipimpin oleh seorang dengan suara jahr (keras), dan sebagainya. Pada bid’ah jenis ini biasanya para pelaku bid’ah berdalil dengan dalil-dalil umum untuk menguatkan bid’ah yang diamalkan, sehingga ketika mereka diminta meninggalkan bid’ah tersebut mereka mengatakan “ kenapa anda melarang kami mengamalkan perintah Al Qur’an dan Sunnah!?” seraya membacakan dalil-dalil umum tadi. Wallahul Musta’an…
  3. Bid’ah Tarkiyah, yaitu meninggalkan suatu amalan mubah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Misalnya seorang tidak mau makan daging kambing dalam rangka beribadah kepada Allah, hukum tidak memakan daging kambing adalah mubah, tapi ketika ia niatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka jatuh dia kepada amalan bid’ah yaitu bid’ah tarkiyah, sebab syari’at tidak menuntun seorang mendekatkan diri kepada Allah dengan tidak makan daging kambing.

Adakah yang “Hasanah”?

Untuk pertanyaan yang satu ini, marilah kita dengarkan jawaban dari manusia yang terbaik sepanjang zaman, dari sejak diciptakannya manusia pertama yaitu Adam alaihissalam sampai terjadinya hari kiamat nanti. Dialah orang yang paling memahami syari’at Allah subhanahu wata’ala karena kepadanyalah islam diturunkan melalui malaikat yang paling mulia yaitu Jibril alaihissalam, ditangannya juga risalah mulia ini di sempurnakan, Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda sebagai jawaban dari pertanyaan di atas,

وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلابة 

Artinya: “Dan waspadalah kalian terhadap perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”

Perhatikanlah betapa gamblang dan jelasnya hadits yang mulia ini dalam menerangkan kedudukan bid’ah sehingga tidak membutuhkan lagi penjelasan selainnya untuk memahami hal ini, dengan bahasa yang lugas beliau mengatakan “setiap bid’ah adalah sesat”.

Setelah mendengar jawaban di atas, lantas apa yang dikatakan para pelaku bid’ah? Ternyata mereka mengatakan ada bid’ah hasanah, seakan mereka tidak terima dengan sabda Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam di atas. Pantaskah orang-orang semacam ini dikatakan cinta dan patuh kepada Rasulullah??? Seandainya Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam, masih hidup dan bersabda dengan hadits di atas dihadapan mereka, masihkah mereka akan mengatakan “sebagian bid’ah ada yang baik” sementara saat itu Rasulullah mengatakan semuanya sesat!!? Lebih cerdaskah mereka dibandingkan Rasulullah? ?? tidakkah ini yang dikatakan lancang dan sombong!? Wallahul Musta’an…

Lihatlah generasi terbaik ummat ini yaitu para sahabat, tidak satupun diantara mereka mengatakan bid’ah ada yang hasanah sementara mereka adalah orang yang paling memahami perkataan Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam, karena agama ini diturunkan dengan bahasa mereka. Lalu dimana mereka yang mengatakan “orang-orang yang mengatakan semua bid’ah sesat adalah orang yang tidak faham bahasa Arab”?

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

اتبعوا ولا تبتدعوا فقد كفيتم وكل بدعة ضلالة

Artinya: “Ikutilah (sunnah) dan janganlah kalian berbuat bid’ah, sungguh kalian telah tercukupi (dengan sunnah) dan setiap bid’ah sesat.”

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,

كل بدعة ضلالة وإن رءاها الناس حسنة

Artinya: “Setiap bid’ah sesat walaupun manusia memandangnya baik.”

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata,

عليك بتقوى الله والاستقامة واتبع ولا تبتدع

Artinya: “Wajib atasmu untuk bertaqa kepada Allah dan beristiqomah, berittiba’lah dan jangan berbuat bid’ah.”

Al Imam As Syafi’i rahimahullah mengatakan,

من استحسن فقد شرع

Artinya: “Barang siapa yang menganggap baik suatu bid’ah maka sungguh dia telah membuat syari’at.”

Al Imam Malik rahimahullah, guru imam Syafi’i rahimahullah mengatakan,

“Barang siapa yang mengadakan suatu bid’ah dalam Islam yang dia anggap baik, maka sungguh dia telah menuduh Rasulullah telah menghianati risalah(islam) karena Allah berfirman : “ pada hari ini telah Kusempurnakan bagi kalian agama kalian dan telah Kucukupkan nikmatKu atas kalian dan telah Kuridhoi islam sebagai agama kalian” (Al ma’idah : 3). Maka apa yang bukan agama pada hari itu, bukan termasuk agama pada hari ini.”

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata,

أصول السنة عندنا التمسك بما كان عليه أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم والاقتداء بهم, وترك البدع وكل بدعة فهي ضلالة

Artinya: “Pokok-pokok sunnah menurut kami adalah berpegang teguh dengan apa yang para sahabat Rasulullah di atasnya dan meneladani mereka, dan meninggalkan bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.”

Apabila Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam, para sahabat beliau, dan imam-imam ahlussunnah telah sepakat tentang sesatnya setiap amalan bid’ah, akankah kita mengikuti pendapat selain mereka setelah datang petunjuk yang lurus ini???

Dan perlu kita fahami bahwa bid’ah jauh lebih disukai oleh Iblis daripada kemaksiatan, dikarenakan pelaku bid’ah meyakini apa yang dilakukannya merupakan ibadah, sehingga sulit diharapkan ia akan bertaubat dari kebid’ahannya. Berbeda dengan pelaku maksiat, ia melakukan kemaksiatan dengan keyakinan bahwa apa yang dilakukannya adalah bentuk pelanggaran aturan Allah subhanahu wata’ala, sehingga masih ada harapan dia akan bertaubat.

Kita memohon kepada Allah subhanahu wata’ala,semoga menjadikan kita orang-orang yang tunduk sepenuhnya kepada sunnah Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam, dan menancapkan ke dalam hati kita kecintaan terhadapnya, serta memasukkan kita kedalam golongan para pembelanya. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabat serta orang-orang yang mengikutinya sampai hari kita berjumpa dengan-Nya, alhamdulillahi rabbil alamin.

***

Katagori : Aqidah

Penulis: Medi Murdiansyah, M.Pd hafidzahullah

(Semoga Allah menjaga beliau dan keluarganya)

Gulir ke Atas