Ramadhan Jangan Cuma Lapar, Manfaatkan Setiap Detiknya

FIQIH INDONESIA – Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah bulan waktu terbaik, setiap detik bernilai pahala, setiap amal dilipatgandakan, dan setiap kelalaian justru terasa sangat merugi.

Sayangnya, tidak sedikit dari kita yang melewati Ramadhan begitu saja. Siang hari dihabiskan tidur, malam sibuk scroll Handphone, tarawih sekadar formalitas. Puasa dapat, tapi Ramadhan nyaris tak berbekas. Allah Subhanahu wa ta’ala mengingatkan,

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Tujuan Ramadhan jelas: yaitu takwa. Dan takwa hanya lahir dari waktu yang dimanfaatkan dengan baik. Dalam bulan Ramadhan, Allah Subhanahu wa ta’ala seolah “mengatur ulang” ritme hidup kita: Ada waktu sahur, ada waktu imsak, ada waktu berbuka, tarawih, ada juga Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.

Semua ini mendidik kita agar menghargai waktu. Rasulullah Shollallohu a’laihi wasallam bersabda,

Artinya: “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)

Ramadhan datang untuk membuka mata kita bahwa waktu itu bukan untuk dibunuh, tapi diisi dan dihidupkan.

Berikut diantara cara memanfaatkan waktu di bulan Ramadhan:

  • Pagi Hari: Jangan habiskan dengan tidur.

Tidur setelah Subuh hingga siang hari mungkin terasa nikmat, tapi Ramadhan bukan bulan memindahkan waktu malam ke siang.

Gunakan pagi untuk tilawah Al-Qur’an, dzikir pagi, membaca atau menulis hal bermanfaat, bekerja dengan niat ibadah. Ingat, puasa bukan alasan untuk malas.

  • Siang Hari: Jaga hati, menahan lapar itu mudah, tapi menahan lisan dan emosi itulah ujian sesungguhnya.

Rasulullah Shollallohu a’laihi wasallam bersabda,

Artinya: “Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka jangan berkata kotor dan jangan marah. Jika ada yang mencacinya, katakanlah: aku sedang berpuasa.” (HR. Bukhari & Muslim)

Ramadhan adalah latihan pengendalian diri—bukan hanya ritual kosong.

  • Sore Hari: Menjelang berbuka adalah waktu mustajab doa. Sayang jika hanya diisi rebahan sambil menunggu azan. Gunakan untuk berdoa dengan sungguh-sungguh, muhasabah diri, memohon ampunan dan hajat terbaik kepada Allah.

Rasulullah Shollallohu a’laihi wasallam bersabda,

Artinya: “Tiga doa yang tidak tertolak: doa orang yang berpuasa ketika berbuka…”
(HR. Tirmidzi)

  • Malam Hari: Jangan kalah oleh lelah, tarawih, tadarus, qiyamul lail—semuanya terasa berat jika niat kita lemah.

Padahal Rasulullah Shollallohu a’laihi wasallam bersabda,

Artinya: “Barang siapa melaksanakan qiyam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim)

Bukan soal panjangnya berdiri, tapi kehadiran hati. Ramadhan Akan Pergi, bekasnya yang menentukan. Yang menjadi pertanyaan: Apakah Al-Qur’an jadi lebih dekat? Apakah shalat jadi lebih khusyuk? Apakah dosa berkurang dan akhlak membaik? Jika Ramadhan berlalu tanpa perubahan, berarti ada waktu yang terbuang sia-sia.

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,

“Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka berkuranglah bagian dari dirimu.”

Ramadhan adalah hadiah waktu dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Jangan biarkan ia habis hanya dengan rutinitas tanpa faidah. Mari manfaatkan setiap detiknya dengan memupuk iman kita dengan amal-amal shalih agar ketika Ramadhan pergi, ia meninggalkan bekas kebaikan, bukan penyesalan. Wallahu a’lam.

***

Katagori : Amalan

Penulis: Medi Murdiansyah, M.Pd. Hafidzahullah

(Semoga Allah menjaga beliau dan keluarga)

Artikel Islam Fiqih Indonesia.com

Gulir ke Atas