Mengenal Adab Kepada Allah dalam Perspektif Al-Qur’an & Sunnah

FIQIH INDONESIA – Allah Subhana wa ta’ala yang telah memberikan segala kenikmatan kepada kita. Karena itu wajib bagi kita beryukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena Syukur adalah inti ibadah, pokok kebaikan, dan merupakan hal yang paling wajib atas manusia. Karena tidak ada pada diri seorang hamba dari nikmat yang tampak maupun tersembunyi, melainkan berasal dari Allah. Sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. an-Nahl/16:18]

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki hak yang menjadi kewajiban para hamba-Nya. Hak Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut harus diutamakan daripada hak-hak sesama makhluk. Diantara yang menjadi hak  Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjadi kewajiban para hamba yaitu memiliki adab yang baik kepada Allah Azza wa Jalla diantara nya :

  1. Beriman Kepada Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk beriman kepada-Nya dan kepada perkara-perkara yang wajib diimani sebagaimana yang terdapat dalam hadist Nabi Sholallahu ‘alaihi wa sallam dari hadits Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu :

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Artinya: “Beriman kepada Allah, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada para rasul-Nya, kepada hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” Orang tadi berkata, “Engkau benar.” (HR. Muslim)

Beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan pengaruh dalam hati yaitu ketenangan dalam hati, kebahagian dalam diri dan dan merasa diawasi dalam segala perbuatan. Sebagaimana terkandung dalam hadits berikut :

عَنْ أَبِيْ عَمْرٍو، وَقِيْلَ، أَبِيْ عَمْرَةَ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِيْ فِي الإِسْلامِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدَاً غَيْرَكَ؟ قَالَ: “قُلْ آمَنْتُ باللهِ ثُمَّ استَقِمْ” رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Artinya: “Dari Abu ‘Amr—ada yang menyebut pula Abu ‘Amrah—Sufyan bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku berkata: Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu.” Beliau bersabda, “Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)

  1. Ikhlas dalam Beribadah Kepada Allah

Keikhlasan termasuk salah satu pokok di antara pokok-pokok agama ini. Karena agama ini dibangun di atas dasar realisasi ibadah yang merupakan tujuan manusia diciptakan, sementara hakikat ibadah itu sendiri tidak akan ada kecuali disertai dengan ikhlas. Keikhlasan dalam ibadah itu, ibarat ruh dalam jasad. Jasad tanpa ruh menjadi bangkai yang tidak bernilai. Demikian pula amalan, jika dilakukan tanpa keikhlasan maka tidak ada nilainya, bahkan suatu amalan tidak dikatakan amal shalih tanpa keikhlasan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (QS. al-Bayyinah: 5)

Dan firman Allâh Azza wa Jalla :

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Artinya: “Katakanlah, “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, “Bahwa sesungguhnya Rabb kamu itu adalah Rabb Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Rabbnya.” (QS. al-Kahfi: 110).

Dalam kitab Al bidaayah fi ulumur raqa’iq disebutkan Keihklasan itu adalah cahaya didalam hati, memberikan keberkahan dalam setiap amal perbuatan dan lurus disetiap perkataan. Ini pengaruh dalam akhlak seorang muslim.

  1. Tawakkal kepada Allah

Tawakkal adalah kesungguhan hati dalam bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mendapatkan kemaslahatan serta mencegah bahaya, baik menyangkut urusan dunia maupun akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

Artinya : “Dan barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan jadikan baginya jalan keluar dan memberi rizqi dari arah yang tiada ia sangka-sangka, dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, maka Dia itu cukup baginya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)

Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, “Tawakkal adalah faktor paling utama yang bisa mempertahankan seseorang ketika tidak memiliki kekuatan dari serangan makhluk lainnya yang menindas serta memusuhinya. Tawakkal adalah sarana yang paling ampuh untuk menghadapi keadaan seperti itu, karena ia telah menjadikan Allah sebagai pelindungnya atau yang memberinya kecukupan. Maka barang siapa yang menjadikan Allah sebagai pelindungnya serta yang memberinya kecukupan, maka musuhnya itu tak akan bisa mendatangkan bahaya padanya.” (Bada’i Al-Fawa’id 2/268)

  1. Bertaubat kepada Allah

Taubat mencakup penyerahan diri seorang hamba kepada Rabbnya, inabah (kembali) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan konsisten menjalankan ketaatan kepada Allah. Jadi, sekedar meninggalkan perbuatan dosa, namun tidak melaksanakan amalan yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka itu belum dianggap bertaubat.

Seseorang dianggap bertaubat jika ia kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan melepaskan diri dari belenggu yang membuatnya terus-menerus melakukan dosa. Ia tanamkan makna taubat dalam hatinya sebelum diucapkan lisannya, senantiasa mengingat apa yang disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa keterangan terperinci tentang surga yang dijanjikan bagi orang-orang yang taat, dan mengingat siksa neraka yang ancamkan bagi para pendosa. Dia berusaha terus melakukan itu agar rasa takut dan pengharapan  kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semakin menguat dalam hatinya.

Dengan demikian, ia senantiasa berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh harap dan cemas agar Allah Subhanahu wa Ta’ala berkenan menerima taubatnya, menghapuskan dosa dan kesalahannya.

  1. Beribadah kepada Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” [QS. Adz-Dzaariyaat/51: 56-58]

Mengomentari ayat ini maka Ibnu Qoyyim Al Jauziyah mengatakan: “Apakah kalian diciptakan tanpa ada maksud dan hikmah, tidak untuk beribadah kepada Allah, dan juga tanpa ada balasan dari-Nya[?] ” (Madaarijus Salikin, 1/98)

Jadi beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah tujuan diciptakannya jin, manusia dan seluruh makhluk. Makhluk tidak mungkin diciptakan begitu saja tanpa diperintah dan tanpa dilarang. Wallahu a’lam.

***

Katagori : Adab & Akhlak

Batam, 10 Muharram 1448 H / 25 Juni 2026 M

Oleh: Ondrinaldi Bustamam, Lc., M.A hafidzahullah

(Semoga Allah menjaga beliau dan keluargnya)

Artikel Islam Fiqih Indonesia

 

 

 

 

Gulir ke Atas